Takziah ke Rumah Jemaah Maros yang Wafat di Tanah Suci, Menhaj: Bentuk Penghormatan Terakhir

Takziah ke Rumah Jemaah Maros yang Wafat di Tanah Suci, Menhaj: Bentuk Penghormatan Terakhir

Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Irfan, secara resmi melakukan kunjungan takziah ke rumah duka mendiang Sangkala Manrulu Tonga, seorang jemaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang wafat di Tanah Suci. Kunjungan ini merupakan wujud nyata dari tanggung jawab moral negara serta bentuk penghormatan terakhir pemerintah kepada para tamu Allah yang telah berpulang saat menunaikan rukun Islam kelima. Kehadiran Gus Irfan di Desa Bori Kamase, Kecamatan Maros Baru, turut didampingi oleh Bupati Maros, Chaidir Syam, serta Kepala Kantor Wilayah Kemenhaj Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail.

Almarhum Sangkala Manrulu Tonga (72) diketahui meninggal dunia pada Sabtu (6/6) lalu setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di hotel tempatnya menginap di Mekkah. Berdasarkan keterangan tim medis, almarhum mengembuskan napas terakhir akibat mengalami cardiogenic shock atau kegagalan fungsi jantung yang mendadak. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros, Ahmad Ihyadin, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan almarhum memang sudah menjadi perhatian serius sejak awal keberangkatan. Sangkala memiliki riwayat gangguan paru-paru yang memerlukan pengawasan ketat. Dalam dua hari terakhir sebelum wafat, kondisi fisik almarhum sempat menurun drastis, yang ditandai dengan hilangnya nafsu makan. Meskipun petugas terus memberikan motivasi dan pendampingan maksimal karena kepulangannya ke tanah air sudah dijadwalkan pada 15 Juni 2026, takdir berkata lain.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258990/original/029859700_1781430570-AP26154680263164.jpg)
Dalam kesempatan takziah tersebut, Gus Irfan menegaskan bahwa ia telah mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) dan kantor urusan haji di seluruh daerah untuk proaktif menyambangi keluarga jemaah yang wafat di Arab Saudi. "Kehadiran kami di sini adalah perintah langsung. Saya sudah perintahkan seluruh jajaran di daerah untuk memberikan takziah dan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan negara kepada mereka yang wafat saat sedang menjalankan kewajiban ibadah haji," tegas Gus Irfan di hadapan keluarga almarhum pada Minggu (14/6/2026).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259098/original/060629300_1781449344-Screenshot_2026-06-14_215821.jpg)
Lebih lanjut, Gus Irfan memaparkan data terkini terkait penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Hingga laporan terakhir, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi tercatat mencapai sekitar 290 orang. Meskipun angka ini diklaim lebih rendah dibandingkan dengan musim haji pada tahun sebelumnya, pemerintah tidak ingin lengah. Gus Irfan menyoroti adanya tren peningkatan angka kematian dalam beberapa hari terakhir, yang memicu kewaspadaan tinggi dari otoritas penyelenggara haji. Ia menekankan bahwa fluktuasi data ini menuntut petugas di lapangan untuk tetap sigap dalam memantau kondisi kesehatan jemaah yang masih berada di Arab Saudi hingga proses pemulangan selesai.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259092/original/068791400_1781448762-IMG_4226.jpg)
Cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor utama yang menjadi perhatian serius pemerintah. Suhu udara di Arab Saudi yang mencapai kisaran 45 derajat Celsius dinilai sangat berisiko bagi jemaah, khususnya bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid). Oleh karena itu, seluruh petugas kesehatan dan tim pendamping haji telah diperintahkan untuk memperketat pengawasan, memastikan asupan nutrisi dan hidrasi jemaah tetap terjaga, serta memberikan respon cepat terhadap keluhan kesehatan sekecil apa pun. Gus Irfan menegaskan bahwa jemaah harus terus dipantau, terutama saat menjalani rangkaian ibadah di luar ruangan, untuk meminimalisir risiko kelelahan ekstrem yang dapat berdampak fatal bagi kesehatan.
Di sisi lain, proses pemulangan jemaah haji Indonesia ke tanah air terus berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hingga pertengahan Juni 2026, hampir separuh dari total jemaah haji Indonesia telah berhasil kembali ke daerah asalnya masing-masing. Sisanya dijadwalkan akan dipulangkan secara bertahap melalui debarkasi-debarkasi yang telah disiapkan. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan seluruh jemaah tiba di tanah air dengan selamat, sementara bagi mereka yang wafat di Tanah Suci, pemerintah akan memastikan seluruh hak administrasi dan pengurusan jenazah telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di Arab Saudi, sebagai bentuk tanggung jawab terakhir kepada para jemaah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259060/original/007936000_1781444278-IMG-20260611-WA0003.jpg)
Penyelenggaraan haji tahun 2026 ini memang menjadi sorotan, terutama dengan adanya pemisahan struktur kementerian yang kini lebih fokus pada urusan haji dan umrah. Gus Irfan berulang kali menekankan bahwa perbaikan sistem, mulai dari pelatihan petugas yang kini menggunakan metode semi-militer hingga peningkatan kualitas layanan kesehatan, dilakukan untuk menekan angka risiko di Tanah Suci. Langkah-langkah seperti penambahan personel TNI-Polri sebagai petugas haji juga diyakini mampu meningkatkan kedisiplinan dan keamanan jemaah di tengah padatnya mobilitas di Mekkah dan Madinah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259056/original/020544500_1781442659-WhatsApp_Image_2026-06-14_at_19.27.58.jpeg)
Kunjungan Gus Irfan ke rumah almarhum di Maros ini juga menjadi simbol keterikatan pemerintah dengan masyarakat. Dengan mendatangi langsung rumah duka, pemerintah ingin menunjukkan bahwa di balik angka-angka statistik jemaah yang wafat, terdapat keluarga yang ditinggalkan dan membutuhkan empati serta dukungan. Hal ini juga menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan yang dilakukan kementerian untuk terus meningkatkan standar pelayanan, agar di masa mendatang, angka kematian jemaah haji dapat terus ditekan melalui deteksi dini kesehatan yang lebih komprehensif sejak dari tanah air.

Di akhir penjelasannya, Gus Irfan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mendoakan para jemaah yang masih berada di Arab Saudi agar senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan hingga tiba waktunya kembali ke tanah air. Pemerintah, melalui Kementerian Haji dan Umrah, akan terus bekerja keras memantau setiap perkembangan di lapangan. Segala bentuk kendala yang muncul selama musim haji 2026 akan dijadikan bahan evaluasi mendalam, termasuk mengenai penanganan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi, agar pelaksanaan haji di tahun-tahun mendatang dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan membawa keberkahan bagi seluruh jemaah Indonesia. Kepergian jemaah seperti almarhum Sangkala di Tanah Suci, meskipun membawa duka mendalam bagi keluarga, bagi umat Islam dipandang sebagai akhir yang mulia, dan pemerintah ingin memastikan bahwa prosesi penghormatan terhadap jemaah tersebut dilakukan dengan cara yang paling bermartabat.
