23 Tahun Jaga Amanat, Al Qohhar Ubah Majelis Ta’lim Jadi Rumah 1.252 Yatim

23 Tahun Jaga Amanat, Al Qohhar Ubah Majelis Ta’lim Jadi Rumah 1.252 Yatim
Waktu yang berlalu tidak selamanya melunturkan ingatan, justru bagi Haji Robert Nitiyudo Wachjo, waktu adalah pembuktian atas sebuah janji yang harus ditunaikan. Dua puluh tiga tahun silam, Yayasan Al Qohhar hanyalah sebuah majelis ta’lim sederhana, ruang kecil tempat berkumpul untuk kegiatan keagamaan yang jauh dari kesan megah. Namun, dari kesahajaan itulah sebuah misi kemanusiaan yang luar biasa lahir. Berawal dari amanat sang guru yang telah berpulang, Haji Robert memikul tanggung jawab besar untuk menjaga anak-anak yatim, yatim piatu, serta memberikan perhatian kepada para lansia yang membutuhkan uluran tangan.
Amanat tersebut bukanlah sekadar pesan lisan yang menguap seiring berjalannya waktu. Dengan komitmen yang teguh, Haji Robert mengurus segala aspek legalitas hingga Yayasan Al Qohhar resmi berdiri pada 9 Juli 2003. Sejak saat itu, yayasan ini bertransformasi menjadi oase bagi ribuan anak yang kehilangan sandaran hidup. Hingga kini, Yayasan Al Qohhar telah mendampingi total 1.252 anak, yang terdiri dari 865 anak yatim dan 387 anak yatim piatu, memberikan mereka harapan baru di tengah keterbatasan.
Bagi Haji Robert, menolong anak yatim tidak bisa disederhanakan dengan sekadar pemberian santunan bulanan. Baginya, setiap anak adalah individu dengan mimpi, kebutuhan, dan masa depan yang harus dirawat dengan penuh ketelatenan. Inilah yang membedakan Al Qohhar dengan lembaga lainnya. Mereka tidak memandang anak yatim sebagai objek bantuan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang harus dipenuhi hak-hak dasarnya, mulai dari pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, hingga kasih sayang layaknya anak sendiri.
Salah satu sosok yang merasakan langsung hangatnya dukungan ini adalah Anaya Syakira Abimanyu, seorang anak asuh yang bergabung sejak Juli 2024. Bagi Anaya, Haji Robert bukan sekadar sosok dermawan, melainkan figur ayah yang sangat ia rindukan. "Saya sangat bersyukur menjadi anak asuh di bawah Yayasan Al Qohhar, Ayah Robert sangat baik dan benar-benar menjadi sosok ayah bagi kami," ungkap Anaya dengan penuh haru.
Dukungan yang diberikan Haji Robert memang sangat menyentuh kebutuhan personal anak-anak. Tidak hanya bantuan rutin, fasilitas penunjang masa depan pun disediakan, seperti perangkat pendukung belajar berupa ponsel pintar, laptop, sepeda listrik, hingga kasur yang layak untuk beristirahat. Bahkan, untuk memastikan anak-anak asuhnya memiliki daya saing global, Haji Robert memfasilitasi kursus bahasa Inggris di lembaga pendidikan bergengsi seperti EF. Bagi anak-anak seperti Anaya, kehadiran yayasan memberikan keyakinan bahwa meski mereka kehilangan orang tua, mereka tidak sendirian dalam meniti masa depan.
Ketua Yayasan Al Qohhar, Kartono Warigogung, menegaskan bahwa filosofi yayasan memang berakar pada pemenuhan kebutuhan yang menyeluruh. "Dari awal amanatnya memang untuk mengurus anak yatim dan yatim piatu. Jadi bukan hanya soal memberikan santunan. Anak-anak ini punya banyak kebutuhan. Pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, semuanya harus diperhatikan," jelas Kartono.
Program yayasan pun sangat komprehensif. Bagi anak-anak yang tetap tinggal bersama kerabatnya, yayasan tetap hadir melalui pemberian beasiswa, renovasi rumah agar layak huni, hingga pendampingan psikologis. Bahkan, yayasan memiliki tim khusus yang memantau perkembangan sekolah anak-anak, memastikan mereka tidak putus di tengah jalan karena kendala biaya atau persoalan keluarga.
Sektor kesehatan menjadi fokus yang paling krusial. Yayasan Al Qohhar membangun akses layanan kesehatan yang mumpuni, mulai dari klinik dokter umum hingga dokter gigi. Bagi kasus-kasus medis yang kompleks, yayasan tidak ragu untuk merujuk anak-anak ke rumah sakit spesialis. Tercatat, yayasan telah mendampingi banyak anak dengan kondisi medis serius, seperti jantung bocor, spina bifida, retinal detachment, hingga penyakit berat seperti leukemia. Keberanian yayasan untuk menanggung biaya pengobatan yang mahal membuktikan bahwa nyawa dan kesehatan anak adalah prioritas utama di atas segala-galanya.
Kedekatan antara Haji Robert dan anak-anak asuhnya telah melampaui hubungan formal antara yayasan dan penerima manfaat. Dalam 23 tahun pengabdiannya, Haji Robert berhasil membangun ikatan emosional yang kuat. Ia hadir di setiap momen penting, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perhatian yang sama. Kartono menambahkan bahwa anak-anak sudah menganggap Haji Robert sebagai orang tua mereka sendiri. Hubungan ini telah berubah menjadi ikatan kekeluargaan yang tulus, di mana rasa saling memiliki menjadi fondasi utamanya.
Selain anak yatim, Yayasan Al Qohhar juga tidak melupakan para lansia. Program pemberian sembako rutin tetap berjalan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang kesepian di hari tua. Namun, dedikasi terhadap 1.252 anak yatim dan yatim piatu tetap menjadi fokus utama yang terus dikembangkan seiring waktu.
Dua puluh tiga tahun adalah durasi yang panjang untuk sebuah pengabdian. Dalam kurun waktu tersebut, dunia telah berubah banyak, namun komitmen Haji Robert tetap teguh pada amanat sang guru. Ia membuktikan bahwa kehilangan orang tua tidak harus berarti kehilangan kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi, hidup sehat, dan tumbuh menjadi pribadi yang berdaya.
Yayasan Al Qohhar kini bukan sekadar organisasi, melainkan monumen cinta kasih seorang manusia kepada sesamanya. Melalui setiap bantuan yang diberikan, terselip pesan bahwa kepedulian yang konsisten mampu mengubah takdir seseorang. Kehadiran Haji Robert sebagai sosok ayah bagi 1.252 anak adalah wujud nyata bahwa amanat yang dijaga dengan sepenuh hati akan membuahkan keberkahan bagi banyak orang.
Kisah Al Qohhar adalah pengingat bagi kita semua bahwa pengabdian bukanlah tentang seberapa besar jumlah uang yang disumbangkan, melainkan tentang seberapa lama kita bersedia mendampingi dan memberikan perhatian. Di tengah dinamika kehidupan yang serba cepat, Haji Robert memilih untuk tetap berjalan lambat, memastikan tidak ada satu pun anak yatim asuhannya yang tertinggal dalam meraih mimpi. Amanat itu kini terus dijaga, dan bagi anak-anak Al Qohhar, kehadiran sosok Haji Robert adalah anugerah terbesar yang menjaga nyala harapan mereka tetap terang benderang menuju masa depan yang lebih baik.
