Menteri LH Apresiasi Dusun Bambu hingga EIGER Nature: Ekowisata sebagai Penggerak Ekonomi Berkelanjutan

Menteri LH Apresiasi Dusun Bambu hingga EIGER Nature: Ekowisata sebagai Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
Transformasi paradigma pariwisata di Indonesia kini memasuki babak baru di mana ekowisata tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas bisnis untuk mendulang profit semata. Sebaliknya, pemerintah kini mengarahkan sektor ini sebagai pilar pengembangan ekonomi yang harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan hidup. Model usaha berbasis alam dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang secara eksponensial selama para pelaku usaha mampu memegang teguh prinsip konservasi, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh. Jumhur Hidayat, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ekowisata yang dilakukan oleh pihak swasta. Ia menyoroti kawasan Dusun Bambu di Kabupaten Bandung Barat sebagai prototipe ideal bagaimana aktivitas ekonomi dapat bersinergi dengan pemulihan ekosistem. Dalam kunjungan kerjanya pada Selasa (29/9/2026), Jumhur menekankan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk mendorong ekowisata yang menjaga kelestarian hayati nasional.
“Dusun Bambu adalah contoh konkret bagaimana pemanfaatan lahan dapat berkolaborasi dengan upaya restorasi lingkungan. Dahulu, kawasan ini dikenal gersang dan memiliki risiko erosi yang tinggi. Namun, melalui pendekatan penghijauan yang masif, area tersebut kini bertransformasi menjadi kawasan rimbun dan produktif. Ini adalah manifestasi dari ekonomi sirkular yang tetap memuliakan alam,” ujar Jumhur.
Menurut Jumhur, pemerintah saat ini secara terbuka membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan dunia usaha untuk mengelola keanekaragaman hayati. Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa pengembangan ekonomi berbasis alam harus mematuhi regulasi lingkungan yang berlaku dan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan ekosistem demi keuntungan jangka pendek.
Arah kebijakan ini menemukan relevansinya dengan pengembangan EIGER Nature yang berlokasi di Megamendung, Bogor. Inisiatif yang diprakarsai oleh Chairman EIGER, Ronny Lukito, ini mengadopsi pendekatan holistik yang menggabungkan empat pilar utama: ekowisata, restorasi lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Ronny menjelaskan bahwa sebagai brand yang memiliki akar kuat di Jawa Barat, EIGER ingin memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian alam melalui model bisnis yang mengintegrasikan konservasi.
“Setelah keberhasilan Dusun Bambu, kami mengembangkan EIGER Nature di Megamendung sebagai langkah nyata dalam restorasi kawasan. Kami tidak hanya membangun destinasi wisata, tetapi juga membangun ekosistem di mana alam yang rusak diperbaiki, edukasi lingkungan disampaikan, dan masyarakat lokal dilibatkan secara aktif dalam roda ekonomi yang terbentuk,” ungkap Ronny.
Secara makro, pergeseran model bisnis ini menunjukkan bahwa industri pariwisata berbasis alam telah bertransformasi. Pengelola tidak lagi hanya menggantungkan pendapatan dari tiket masuk atau jumlah kunjungan wisatawan. Mereka kini menciptakan nilai ekonomi melalui "pengalaman alam" (nature experience) yang dipadukan dengan tanggung jawab konservasi. Inilah yang disebut sebagai nature-based solution dalam industri pariwisata modern.
EIGER Nature sendiri telah membuktikan keseriusannya melalui aksi restorasi lahan kritis. Bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 dan didukung oleh otoritas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), program ini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Sejak dimulai pada tahun 2021, tercatat lebih dari 120.000 pohon dan perdu, serta lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah telah ditanam untuk memulihkan fungsi hidrologis dan ekologis kawasan tersebut.
Investasi pada pemulihan kawasan ini merupakan strategi jangka panjang yang sangat krusial. Dalam konsep ini, ruang alam difungsikan sebagai "laboratorium hidup" untuk edukasi sekaligus sarana rekreasi. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut kini memiliki peluang baru untuk terlibat dalam rantai pasok ekonomi, baik melalui sektor jasa, kerajinan, hingga pemandu wisata berbasis pengetahuan ekologi.
Lebih jauh, Ronny Lukito menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungan bumi. EIGER Nature sengaja didesain untuk memperkuat kedekatan emosional kaum muda dengan alam. Ia percaya bahwa pengalaman bersentuhan langsung dengan hutan dan ekosistem akan membangun kesadaran kritis mengenai pentingnya konservasi.
“Saya memiliki harapan besar agar generasi muda semakin dekat dengan alam dan mau belajar langsung dari alam itu sendiri. Ketika seseorang semakin mengenal dan mencintai alam, secara otomatis akan muncul empati dan tanggung jawab untuk menjaga serta merawatnya di masa depan,” tambah Ronny.
Pengembangan kawasan seperti Dusun Bambu dan EIGER Nature menjadi bukti bahwa aset ekologis tidak harus dikorbankan untuk aset ekonomi. Keduanya dapat berjalan selaras jika dikelola dengan manajemen yang tepat dan berorientasi pada keberlanjutan. Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara meningkatnya arus kunjungan wisatawan dengan daya dukung lingkungan (carrying capacity) agar kawasan tersebut tidak mengalami degradasi akibat komersialisasi berlebihan.
Bagi para pelaku bisnis, model ekowisata ini memperluas definisi investasi. Investasi pariwisata tidak lagi hanya tentang pembangunan fisik hotel atau wahana permainan, melainkan investasi pada modal alam (natural capital). Nilai sebuah destinasi kini diukur dari sejauh mana mereka mampu memulihkan lahan kritis, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, dan mengedukasi publik.
Keberhasilan inisiatif-inisiatif ini juga diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain di Indonesia yang memiliki kekayaan alam serupa. Pemerintah pusat, melalui KLH/BPLH, berencana untuk memfasilitasi regulasi yang lebih ramah terhadap pengembang ekowisata yang terbukti mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Di tingkat lokal, pelibatan masyarakat menjadi kunci utama. Ekowisata yang sukses adalah yang membuat masyarakat setempat merasa memiliki dan mendapatkan keuntungan ekonomi langsung dari menjaga hutan atau lingkungan di sekitar mereka. Ketika masyarakat melihat bahwa hutan yang berdiri tegak lebih bernilai daripada hutan yang ditebang, maka konservasi akan menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari.
Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Dengan langkah-langkah seperti yang dilakukan di Dusun Bambu dan EIGER Nature, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin dunia dalam pengembangan ekowisata yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan partisipasi publik.
Kesimpulannya, masa depan industri pariwisata Indonesia terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan prinsip keberlanjutan. Melalui model yang mengedepankan restorasi dan edukasi, ekowisata terbukti mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh sekaligus menjadi benteng terakhir dalam menjaga kekayaan biodiversitas nusantara. Langkah nyata yang ditunjukkan oleh para pelaku usaha ini adalah sinyal positif bahwa ekonomi hijau (green economy) bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah praktik nyata yang sedang berjalan di lapangan.
