Uncategorized

Hari Terakhir WCCE 2026 di SCBD Park: Panitia Weekland Gelar Doa Bersama untuk Karhutla dan Penggalangan Dana Kemanusiaan

Oleh | | 10:34 WIB

Hari Terakhir WCCE 2026 di SCBD Park: Panitia Weekland Gelar Doa Bersama untuk Karhutla dan Penggalangan Dana Kemanusiaan

Jakarta menjadi pusat perhatian dunia ekonomi kreatif selama lima hari terakhir, seiring dengan puncak perhelatan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Hari ini, Minggu (25/10/2026), menjadi babak penutup bagi rangkaian Creativillage yang digelar di kawasan SCBD, Jakarta. Menutup perhelatan akbar yang telah mempertemukan ribuan pelaku industri dari 82 negara tersebut, panitia WCCE Weekland di SCBD Park menginisiasi sebuah gerakan solidaritas kemanusiaan melalui doa bersama untuk para korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta doa untuk perdamaian dunia.

Aksi sosial ini tidak sekadar menjadi seremoni penutup, melainkan wujud nyata kepedulian komunitas kreatif terhadap isu lingkungan dan kemanusiaan. Selain doa bersama yang dijadwalkan berlangsung pukul 18.00 WIB, panitia juga menggalang dana yang nantinya akan disalurkan untuk penanganan dampak karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Momentum ini akan disempurnakan dengan penampilan musikal dari grup Moluccan Soul, Seen, serta Marbles yang siap menutup rangkaian acara dengan alunan musik yang menginspirasi.

Perjalanan panjang WCCE 2026 dimulai dari konferensi tingkat tinggi yang diselenggarakan di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta pada 21 hingga 23 Oktober 2026. Mengusung tema besar "Inclusively Creative: Collective Continuity", ajang ini berhasil menjadi ruang dialog bagi para pembuat kebijakan, inovator, dan pelaku industri kreatif global. Kehadiran 38 kepala delegasi, 183 pembicara ahli, serta lebih dari 6.100 peserta dari berbagai belahan dunia menjadi bukti bahwa ekonomi kreatif kini telah menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi global yang berkelanjutan.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa kehadiran Creativillage di tengah kota merupakan upaya pemerintah untuk mendemokratisasi akses terhadap ekonomi kreatif. Ia ingin memastikan bahwa WCCE bukan sekadar forum elitis yang hanya menyentuh tataran kebijakan, melainkan harus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku UMKM tanah air. "Program weekend ini sangat spesial karena melibatkan 88 tenant terkurasi yang mewakili wajah kreatif dari seluruh penjuru Indonesia. Kami melakukan proses kurasi yang ketat agar produk yang ditampilkan benar-benar mencerminkan standar kualitas global," ujar Irene saat meninjau lokasi di SCBD Park, Sabtu (24/10/2026).

Kesuksesan Creativillage sendiri tercermin dari angka kunjungan yang fantastis, yakni lebih dari 20.000 pengunjung selama lima hari penyelenggaraan. Antusiasme masyarakat ini membuktikan bahwa produk lokal Indonesia memiliki daya tarik yang setara dengan brand internasional, terutama jika dipromosikan melalui platform yang tepat dan berstandar dunia.

Pencapaian strategis WCCE 2026 tidak berhenti pada kesuksesan operasional acara. Pada pertemuan tingkat menteri yang digelar Jumat (23/10/2026), para delegasi berhasil menyepakati dokumen krusial yang dinamakan "Jakarta Vision on Creative Economy". Dokumen ini bukan sekadar kertas kerja, melainkan sebuah manifestasi komitmen global yang akan dibawa oleh delegasi Indonesia ke Sidang Umum PBB akhir tahun 2026. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menjelaskan bahwa Jakarta Vision mencakup isu-isu fundamental yang mendesak di era digital, seperti perlindungan hak cipta, tata kelola kekayaan intelektual, keadilan sistem bagi kreator di platform digital, hingga regulasi etika dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang kini mendisrupsi industri kreatif.

Selain kebijakan makro, WCCE 2026 juga melahirkan tiga inisiatif konkret yang akan menjadi fondasi bagi ekosistem kreatif di masa depan. Pertama, Creative Economy Data Model yang dikembangkan bersama WIPO untuk menciptakan standardisasi pengukuran ekonomi kreatif. Kedua, Indonesia Creative Economy Outlook 2026-2027 yang disusun bersama Katadata sebagai panduan riset pasar dan strategi investasi. Ketiga, peluncuran Ekraf Academy sebagai wadah peningkatan kapasitas talenta kreatif Indonesia agar mampu bersaing di pasar global.

Bagi masyarakat yang masih ingin merasakan atmosfer kreatif di hari terakhir ini, Creativillage masih membuka pintu di tiga titik strategis. Pertama, Village One di Ashta District 8 yang menjadi rumah bagi inovasi desain, mulai dari sustainable fashion, pameran otomotif klasik, arsitektur, hingga lokakarya furnitur dari Jepara yang memadukan teknik tradisional dengan estetika modern. Kedua, Village Two di MGP Space yang menawarkan pengalaman futuristik melalui "Labyrinth of Games", simulator balap Mandalika, simulator sepeda Pertamina, hingga turnamen PUBG Mobile yang sangat digandrungi generasi muda.

Terakhir, titik paling meriah yakni Weekland di SCBD Park tetap menjadi destinasi utama. Di sini, pengunjung masih bisa melihat dan membeli produk dari 88 brand lokal pilihan. Salah satu yang menarik perhatian adalah brand Prasojo, binaan Kemenkop, yang telah berhasil menembus panggung Madrid Fashion Week. Selain itu, terdapat pula inisiatif Jejakin dari Baduy Luar yang membawa narasi keberlanjutan berbasis komunitas, serta Spedagi dengan produk sepeda bambunya yang legendaris, membuktikan bahwa kreativitas berbasis kearifan lokal adalah aset bernilai tinggi di panggung global.

WCCE 2026 telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk memimpin diskursus ekonomi kreatif dunia. Dengan menggabungkan elemen kebijakan, riset data, pemberdayaan UMKM, dan kepedulian sosial, acara ini telah menetapkan standar baru bagi penyelenggaraan konferensi internasional. Keberhasilan ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional yang lebih inklusif, adaptif terhadap teknologi, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Saat matahari terbenam di kawasan SCBD hari ini, doa bersama yang dipanjatkan bukan hanya ditujukan untuk pemulihan hutan yang terbakar, tetapi juga sebagai refleksi atas peran ekonomi kreatif dalam menjaga kelestarian bumi. Ekonomi kreatif di masa depan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan profit, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas tantangan perubahan iklim dan kesenjangan sosial. Dengan berakhirnya rangkaian acara ini, optimisme baru telah terbangun, menjanjikan masa depan di mana karya kreatif anak bangsa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan pemain tangguh di kancah internasional.

Partisipasi lebih dari 20.000 pengunjung di Creativillage memberikan sinyal kuat kepada para pemangku kepentingan bahwa dukungan masyarakat terhadap produk kreatif lokal berada pada level tertinggi. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas kreatif selama WCCE 2026 adalah model kolaborasi yang perlu terus dipertahankan. Di masa depan, integrasi antara data, teknologi AI, dan perlindungan kekayaan intelektual sebagaimana tertuang dalam Jakarta Vision akan menjadi tulang punggung bagi para kreator untuk terus berkarya tanpa rasa takut akan pembajakan atau ketidakadilan sistemik.

Sebagai penutup, WCCE 2026 tidak sekadar berakhir dengan seremoni, melainkan dengan warisan (legacy) berupa kebijakan global dan jejaring bisnis yang akan terus berlanjut. Bagi para pelaku ekonomi kreatif, hari terakhir ini adalah awal dari babak baru untuk mengimplementasikan apa yang telah dipelajari dan disepakati. Semangat solidaritas yang ditunjukkan melalui doa bersama untuk karhutla adalah cerminan bahwa komunitas kreatif Indonesia adalah komunitas yang memiliki empati, sekaligus visi besar untuk membangun peradaban yang lebih berkelanjutan melalui kreativitas. Sampai jumpa di perhelatan berikutnya yang akan membawa Indonesia lebih jauh dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *